Langsung ke konten utama

Laporan Pencucian dan Sterilisasi Alat dan Pengemas Sediaan

 

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI FARMASI III (STERIL)

PENCUCIAN DAN STERILISASI ALAT DAN PENGEMAS

 

       I.            TUJUAN

1.    Mahasiswa mampu memahami fungsi pencucian dan sterilisasi alat dan pengemas

2.    Mahasiswa mampu memahami konsep sterilisasi

3.    Mahasiswa mampu memahami proses sterilisasi alat dan pengemas

4.    Mahasiswa mampu memahami fungsi setiap bahan yang digunakan dalam proses
 sterilisasi

5. Mahasiswa mampu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses sterilisasi

 

    II.            DASAR TEORI

Mikroorganisme adalah suatu telaah mengenai organisme hidup yang berukuran mikroskopis. Dalam dunia mikroorganisme terdiri dari lima kelompok organisme, yaitu bakteri, protozoa, virus serta algae dan cendawan mikroskopis. Dalam mikroorganisme kita mempelajari banyak segi mengenai jasad-jasad renik ini (juga dinamakan mikroba atau protista), dimana adanya, ciri-cirinya, kekerabatan antara sesamanya seperti juga dengan kelompok organisme lainnya, pengendaliannya dan peranannya dalam kesehatan serta kesejahteraan manusia (Pelczar dan Chan, 2005)

Sediaan steril adalah bentuk sediaan obat dalam bentuk terbagi-bagi yang bebas dari mikroorganisme hidup. Pada prinsipnya, yang termasuk sediaan ini antara lain sediaan parental preparat untuk mata dan preparat irigasi (misalnya infus). Sediaan parenteral merupakan jenis sediaan yang unik diantara bentuk sediaan obat terbagi-bagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membrane mukosa ke bagian tubuh yang paling efisien, yaitu membrane kulit dan mukosa, maka sediaan ini harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari bahan-bahan toksis lainnya, serta harus memiliki tingkat kemurnian yang tinggi. Semua bahan dan proses yang terlibat dalam pembuatan produk ini harus dipilih dan dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi, apakah kontaminasi fisika, kimia atau mikrobiologi (Priyambodo, 2007).

Sediaan steril memiliki beberapa sifat bentuk takaran yang unik, seperti bebas dari mikroorganisme, pirogen dan bebas dari partikulat serta memiliki standar yang sangat tinggi dalam hal kemurnian dan kualitas. Tujuan utama pembuatan sediaan steril adalah mutlak tidak adanya kontaminasi mikroba. Kontaminasi dapat berasal dari beberapa penyebab sebagai berikut; sterilisasi media yang kurang sempurna, lingkungan kerja dan pelaksanaan cara kerja saat penanaman,eksplan, molekul-molekul atau benda-benda asing berukuran kecil yang jatuh atau masuk ke dalam botol kultur setelah penanaman dan ketika diletakkan di ruangan. (Agalloco and Carleton, 2008; Irby, 1994)

Dekontaminasi adalah proses menghilangkan atau membunuh mikroorganisme sehingga objek aman untuk ditangani, tujuannya untuk melindungi praktikan yang melakukan percobaan menggunakan bakteri atau semacamnya. Tiga metode umum dalam proses dekontaminasi yaitu sterilisasi, desinfeksi dan sanitasi. Sterilisasi yaitu proses atau kegiatan membebaskan suatu bahan atau benda dari semua bentuk kehidupan. Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.

Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikrob) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi secara fisik dilakukan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Pemanasan dapat dilakukan dengan cara pemijaran, pemanasan kering, menggunakan uap air panas, dan menggunakan uap air panas bertekanan  (Agalloco, 2008).

Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu penggunaan panas, penggunaan bahan kimia, dan penyaringan (filtrasi). Bila panas digunakan bersama-sama dengan uap air maka disebut sterilisasi panas lembab atau sterilisasi basah, bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. Sedangkan sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan gas atau radiasi. Pemilihan metode didasdarkan pada sifat bahan yang akan disterilkan (Hadioetomo, R. S., 1985).

Tidak seperti syarat banyak sediaan yang lain, syarat sterilitas adalah nilai yang mutlak. Secara historis, pertimbangan sterilitas bersandar pada uji sterilitas lengkap yang resmi, namun sediaan akhir pengujian sterilitas mengalami banyak batasan. Batasan yang paling nyata adalah sifat dasar dari uji sterilitas ini adalah uji yang destruktif sehingga hal ini tergantung pemilihan statistik sampel acak dari keseluruhan.

Jika diketahui bahwa satu unit dari 1000 unit terkontaminasi (yakni, angka kontaminasi = 0,1%) dan 20 unit di sampel secara acak dari 1000 unit, kemungkinan unit yang terkontaminasi dari 20 sampel itu adalah 0,02. dengan kata lain, hanya 2% peluang dari unit yang terkontaminasi akan dipilih sebagai bagian 20 wakil sampel dari keseluruhan 1000 unit. Bahkan jika unit yang terkontaminasi satu dari 20 sampel dipilih untuk uji sterilitas, kemungkinan uji sterilitas akan gagal, masih ada untuk mendeteksi kontaminasi. Konsentrasi kontaminan mikroba mungkin saja terlalu rendah untuk terdeteksi selama periode inkubasi atau dapat saja tidak cukup berkembang cepat atau tidak sama sekali karena ketidakcukupan media dan inkubasi. (Abdou, 1974; Lukas, 2006).

Jika perkembangan mikroba terdeteksi dalam uji sterilitas, maka hal ini dapat mencerminkan pembacaan positif yang salah (false-positive reading) karena masalah kontaminasi aksidental dari media kultur pada saat uji sterilitas berlangsung. Masalah kontaminasi aksidental adalah hal serius, merupakan batasan yang masih tidak dapat dihindari dari uji sterilitas. Food and Drug Administration (FDA) menerbitkan pedoman mengenai prinsip umum dari proses validasi (Australian Government, 2006).

Titik utama yang ditekankan pada pedoman adalah ketidakcukupan kepercayaan dari uji sterilitas sediaan akhir dalam memastikan sterilitas dari kumpulan sediaan steril. Batasan-batasan utama ini menunjukkan bahwa kepercayaan pada pengujian sterilitas produk akhir saja dalam memastikan sterilitas sediaan dapat mengarahkan kepada hasil yang keliru. Untuk memberikan jaminan yang lebih luas dan mendukung hasil dari uji sterilitas sediaan akhir, sebaiknya ruangan produksi steril harus memenuhi beberapa persyaratan,    diantaranya    bebas mikroorganisme aktif. (Australian Government, 2006; Sandle, 2008).

Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi ini termasuk kelembaban, konsentrasi gas, suhu dan distribusi gas dalam chamber pengsterilan. Penghancuran bakteri tergantung pada adanya kelembaban, gas dan suhu dalam bahan pengemas, penetrasi melalui bahan pengemas, pada pengemas pertama atau kedua, harus dilakukan, persyaratan desain khusus pada bahan pengemas  (Hadada, A W, 2009)          

Autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121 0C (250 0F). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 121 0C. (Marino and Benjamin, 1986).

Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 Psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 Psi. (Marino and Benjamin, 1986; Lukas, 2006)

Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba penguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisasi lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik (Capuccino    and Natalie, 2000; Hugo and Russel, 1998).

Wadah berhubungan erat dengan produk. Tidak ada wadah yang tersedia sekarang ini yang benar – benar tidak reaktif, terutama dengan larutan air. Sifat fisika dan kimia mempengaruhi kestabilan produk tersebut, tetapi sifat fisika diberikan pertimbangan utama dalam pemilihan wadah pelindung. Wadah terbuat dari berbagai macam bahan, wadah plastik, wadah gelas, dan wadah dari karet. Wadah plastik, bahan utama dari plastik yang digunakan untuk wadah adalah polimer termoplastik, unit struktural organik dasar untuk masing – masing type yang biasa terdapat dalam bidang medis.

Sesuai dengan namanya, polimer termoplastik meleleh pada temperatur yang meningkat. Wadah plastik digunakan terutama karena bobotnya ringan, tidak dapat pecah, serta bila mengandung bahan penambah dalam jumlah kecil, mempunyai toksisitas dan reaktivitas dengan produk yang rendah. Suatu golongan plastik baru, poliolefin, patut disebut secara khusus, yang saat ini mendapat perhatian dalam bidang parenteral adalah polipropilen dan kopolimer polietilen – polietilen (Lachman. 1994).

Pengemasan adalah suatu proses pembungkusan, pewadahan atau pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk yang didalamnya terlindungi. Teknologi pengemasan terus berkembang dari waktu ke waktu dari mulai proses pengemasan yang sederhana sampai teknologi modern seperti saat ini. Pengemas merupakan wadah yang melindungi keseluruhan bahan kemas dari kerusakan yang dilengkapi dengan tulisan, label, keterangan lain yang menjelaskan isi, kegunaan, dan informasi lain yang perlu disampaikan kepada konsumen. Bahan kemas yang kontak langsung dengan bahan yang dikemas, dinyatakan sebagai bahan kemas primer, contohnya strip/blister, botol, ampul, vial, plastik dan lain-lain. Sedangkan pembungkus selanjutnya seperti kotak terlipat karton dan sebagainya dinamakan bahan kemas sekunder (Voight, 1995 ).

       

 III.  ALAT DAN BAHAN

            A. ALAT

              I.     Alat yang disterilkan   :

1.    Pengemas ampul                                                                                 2 buah

2.    Pengemas vial                                                                                     2 buah

3.    Peralatan Gelas          

a.       Gelas Beker                                                                                 1 buah

b.      Cawan Porselen                                                                           1 buah

c.       Gelas Ukur                                                                                  1 buah

d.      Corong Kaca                                                                               1 buah

e.       Batang Pengaduk                                                                        2 buah

f.       Tabung Reaksi                                                                             1 set

g.      Pipet Ukur                                                                                    1 buah

h.      Pipet Tetes                                                                                   4 buah

4)                Peralatan Logam dan lainnya : 

a.       Sendok                                                                                         1 buah

b.      Pinset                                                                                           1 buah

c.       Spatel                                                                                           1 buah

d.      Lumpang Alu                                                                               1 set

    II.            Alat yang digunakan           :

a.        Oven                                                                                            1 buah

b.       Autoklaf                                                                                       1 buah

c.        Baskom                                                                                        1 buah

d.       Kompor                                                                                        1 buah

e.        Inkubator                                                                                     1 buah

f.        Kapas                                                                                           1 buah

g.       Kertas Kopi                                                                                  1 buah

h.       Plastik Laundry                                                                            1 buah

i.         Benang                                                                                         1 buah

j.        Alumunium Foil                                                                            1 buah

B.     BAHAN

1.      Larutan Detergen                                                                        250 ml

2.      HCl encer                                                                                    500 ml

3.      Na2CO3 5%                                                                                200 ml

4.      Aquadest                                                                                     1 L

5.      Etanol 70%                                                                                  500 ml

 


 

 

Komentar